Mengajar Dengan Cinta

Oleh Suyatno - Rabu, 11 Juni 2008


Adakah cinta guru kepada siswanya melebihi cintanya kepada anak kandungnya? Pertanyaan tersebut hanya untuk menggambarkan bahwa guru perlu menumbuhkan dan memelihara cinta tulusnya kepada siswa di kelas. Seberapa besar jumlah siswa di kelas, sebesar itu pula cinta tulus dibalutkan dalam alam pikiran siswa. Malam hari menjelang tidur, sang guru berdoa untuk diri, keluarga, dan siswa-siswa yang tadi pagi dijumpai di kelas. Pagi hari, semangat berangkat kerja adalah semangat para siswa yang tersenyum lembut pertanda masih membutuhkan cinta guru.

Saat masuk kelas, senyum tulus guru menebar ke semua diri siswa. Tidak satupun anak yang terlewatkan dari sorot tulus dan jangkauan kasih sayang dari guru. Guru langsung membenamkan diri dalam suasana anak secara alami. Cara seperti itu menurut Quantum Learning, disebut bawalah dunia kita ke dunia mereka dan tariklah dunia mereka ke dunia kita.

Guru mengenali tipikal dan ciri khas siswa satu per satu sebagai bahan untuk mengemas materi.Kemudian, materi disajikan dengan kemasan yang menarik sesuai dengan kemampuan dan pemahaman siswa. Suatu saat materi dikemas dalam cerita dongeng yang menarik karena siswa pada tahun itu, setelah diidentifikasi di awal tahun, didominasi dengan kecerdasan linguistik. Padahal, materi pelajaran yang disajikan berupa matematika. Tahun berikutnya, materi yang sama, oleh guru dikemas dalam gerakan simbolis karena siswa pada tahun itu berciri kecerdasan kinestetis. Begitulah seterusnya, guru mengganti-ganti kemasan materi dan metodenya. Tiap tahun ada upaya sang guru untuk berpikir dan berinovasi meskipun tidak diperintahkan oleh atasannya.

Cinta guru adalah cinta yang seutuhnya yang keluar dari pori-pori keikhlasan dan ketulusan. Semua daya dan upaya hanya semata untuk menumbuhkembangkan siswanya. Tidak ada kerinduan yang paling hebat bagi diri kecuali rindu pada siswanya. Mata batin guru adalah mata batin siswa yang menapaki alam untuk meneruskan perjuangan kehidupan berikutnya.

Andai terdapat guru yang mempunyai ketulusan dan keikhlasan tinggi, dialah guru yang hidup pada zaman ini berdasarkan hidup diri Mahatma Ghandi. Andai ada guru yang mempunyai motivasi tinggi dan semangat bergairah, dialah wujud Sukarno yang menjelma dalam guru itu. Andai ada guru yang sabar dengan kasih sayang, dialah kesabaran yang membuncah dalam diri guru berjiwa Bunda Theresa.

Padang yang harus dilewati untuk menjadi guru penuh cinta adalah padang yang terjal dan tandus. Di ceruk padang itu, terdapat bebatuan yang sering mengganjal perjalanan guru untuk mencpai telaga kesegaran dirinya. Kemudian, dalam padang itu, terdapat duri yang meski kecil menyakitkan. Belum lagi suasana saat melewati padang itu sangat panas karena belum ada perlindungan yang pantas untuk guru agar tidak kepanasan dan gundah berkeringat.

Namun, seganas apapun padang yang harus dilewati, jika guru itu bertekad kuat sekuat matahari menyinari bumi, tidak ada jalan yang tidak dapat ditempuh. Modal dasarnya adalah niat dalam diri, cinta sejatinya, dan ketulusan. Siswa ada dalam diri guru dan guru menyatu dalam kerling siswa yang menawan.

Back
ARTIKEL